Kamis, 30 September 2010

Untukmu Bapak

Krik.. krik... krik... bunyi jangkrik itu masih menggangguku. Ah, beginilah hidup orang desa, harus mendengar suara jangrik tiap malam. Belum lagi suara kodok yang begitu menceruat saat kami anak-anak desa Pengasih terlelap dalam belaian lembut bunga tidur. Sesaat masih teringat jelas perkataan Pak Woro, wali kelasku tadi. “Segera lunasi administrasi sekolah sebelum tanggal dua lima.” Huh, bikin tidak tenang saja. Sepanjang perjalanan pulang dari kota ke Pengasih tadi benar-benar melelahkan. Sialnya ban sepedaku bocor, terpaksa aku harus menuntun sepeda bututku itu dari pusat kota Jogja hingga desa Pengasih. Bayangkan saja, jarak desaku ke kota Jogja hampir 30 kilometer! Dengan susah payah aku harus menuntun sepeda bututku itu. Namun aku tak patah semangat, ingin segera kuakhiri perjalanan melelahkan itu. Ingin segera melepas kangen dengan simbok dan bapak.
Le, lirena dikik.” suara simbok tiba-tiba memecah lamunanku akan perjalanan pulangku tadi.
“Iya, mbok. Bapak sudah pulang dari alas?” tanyaku.
“Belum, le. Mungkin sebentar lagi. Bagaimana ujianmu, le? Lancar to?”
“Lancar, mbok. Tinggal tunggu pengumuman saja.”
“Oh ya syukur, le. Simbok hanya bisa mendoakan saja. Semoga setelah lulus nanti kamu segera punya gaweyan yang mapan, bisa jadi "wong mulya.”
“Amin, mbok. Yanto selalu ingat nasehat-nasehat simbok. Eh mbok...” aku enggan melanjutkan kata-kataku
“Yo, le? Ada apa?”
“Yanto butuh uang untuk bayar sekolah, mbok.” muka simbok agak murung setelah mendengar kata-kataku baru saja.
“Berapa, le?”
“Biaya SPP dua bulan 400 ribu, mbok. Ditambah uang kenang-kenangan buat sekolah 300 ribu.” kataku
“Wah, le. Simbok sedang ndak punya uang. Memangnya untuk kapan itu, le?” tanya simbok.
“Paling lambat tanggal dua lima, mbok. Tiga hari lagi.” jawabku. Sebenarnya aku tidak tega mengatakan hal ini kepada simbok. Ku lihat beberapa kerutan di dahi simbok, menandakan kalau simbok sedang bingung.
“Baik, le. Nanti simbok bicarakan dengan bapak dan mbakyumu.”
“Iya, mbok. Maaf Yanto selalu merepotkan simbok, bapak, dan mbakyu.”
“Wes, ndak papa, le. Yang penting kamu mikir untuk cari pekerjaan setelah lulus nanti. Soal biaya, nanti biar simbok, bapak, dan mbakyumu yang pikir.” kata simbok sambil memijat-mijat kakiku yang terasa sangat pegal gara-gara perjalanan melelahkan tadi.
“Matur nuwun nggih, mbok.” kataku.
“Iya, le. Sepedamu bocor lagi, le?”
“Nggih, mbok. Terpaksa nuntun sepeda dari kota sampai Pengasih, mbok.”
“Ealah, le. Yo wis, sekarang kamu ke rumah Lik Dimin saja. Suruh dia nambal ban sepedamu. Besok pagi kamu harus balik ke kota lagi, kan?”
“Iya, mbok. Yanto ke rumah Lik Dimin dulu ya, mbok?”
“Iya, le
***

Dasar bodoh! Aku memang anak yang tidak berguna. Disaat kondisi keluarga yang serba pas-pasan, aku cuma bisa meminta dan meminta. Terkadang aku menyesal mengapa aku harus melanjutkan pendidikanku ke SMA. Padahal jadi kuli saja sudah cukup buatku. Namun simbok dan bapak berkehendak lain. Mereka ingin agar aku jadi wong mulyo. “ bapak dan simbok dulu cuma lulus Sekolah Rakyat, dan hanya jadi petani. Kelak kamu harus lebih berhasil dan jadi wong mulyo, le” kata bapak kala itu. Mereka begitu semangat menyekolahkanku. Dengan peluh mereka bekerja setiap hari, membanting tulang hanya untuk membiyayai sekolahku. Bahkan bapak memilih menyekolahkanku di sekolah favorit dan menitipkan aku kepada teman-nya di kota. “Duh Gusti, kapan saya bisa membalas budi mereka?” gumamku.
***
Aku terbangun pukul dua keesokan harinya. Ya, agar aku sampai di kota tepat waktu dan tidak terlambat berangkat ke sekolah tentunya.
“Sudah mau berangkat, le?” tanya bapak saat aku mengecek ban sepeda.
“Iya, pak. Takut kalau nanti kesiangan.”
Le, kemarilah.” kata bapak. Mendengar ucapan bapak, aku pun segera mendekat.
“Ini uang untuk biaya sekolahmu.” kata bapak sambil menyodorkan beberapa lembar uang seratusribuan.
“Lho, pak? Ini uang dari mana? Bapak gadaikan sepeda lagi? Jangan, pak. Ijazah Yanto ndak diambil juga ndak papa.”
“Hahaha, kamu ini ada-ada saja. Lihat, sepeda bapak masih ada, kan? Yang penting kamu cepet-cepet lulus, le. Soal mbakyumu nanti gampang.” kata beliau.
“Maksud bapak?” aku terbelalak. “Bapak pakai uang untuk biaya pernikahan Mbak Marni? Ndak usah, pak. Kasihan Mbak Marni. Lebih baik ijazah Yanto ndak usah diambil saja. Nanti biar Yanto yang cari uang sendiri. Yanto sudah sering merepotkan Bapak, Simbok, dan Mbak Marni.”
“Ndak papa, le. Bapak sudah bicarakan dengan matang-matang dengan simbok dan mbakyumu.”
“Iya, dik. Ndak papa kamu pakai dulu. Mbak Marni ndak apa-apa kok. Jangan mikirin Mbak Marni. Yang penting administrasi kamu beres dan kamu bisa lulus.” kata Mbak Marni tiba-tiba sudah ada di samping bapak.
“Tapi mbak...”
“Sudahlah, pakai dulu saja. Nanti Tuhan pasti kasih rejeki buat mbak. Yang penting kamu lulus dulu, dik.” kata Mbak Marni.
“Tapi mbak...” suaraku bergetar.
“Sudahlah, ndak papa. Jangan pikirkan Mbak.” kata Mbak Marni lagi.
“Iya, le. Mbak Marni juga sudah pikirkan matang-matang.” kata simbok.
“Makasih ya, mbak.” kataku.
“Iya, dik. Sudah kamu berangkat dulu. Nanti kesiangan lho.” kata Mbak Marni.
“Iya. Ohya pak, dua hari lagi pengumuman kelulusan. Para wali murid diundang untuk mengambil pengumuman kelulusan. Bapak bisa datang, kan?” kataku.
“Iya. Jam berapa, le?”
“Jam sembilan, pak.”
“Baiklah kalu begitu bapak usahakan ya.”
“Iya. Pak, Yanto berangkat dulu ya?” ucapku. Lalu aku mencium punggung tangan bapak dan simbok dengan haru, dan memeluk kakakku, Marni.
Ati-ati, dik” ucap Mbak Marni.
“Iya. Pak, Mbok, Mbak, Yanto berangkat dulu” ucapku sambil memberikan seulas senyum. Aku bangga memiliki keluarga seperti mereka.
“Eh, sebentar..” kata simbok lari tergopoh-gopoh menuju dapur kemudian kembali dengan sebuah bungkusan. “Ini buat bekal di perjalanan nanti, ati-ati ya, le.” kata simbok sambil menyodorkan sekepal nasi lengkap dengan sayurnya yang dibungkus dengan daun pisang.
“Terima kasih, mbok. Yanto berangkat dulu.” pamitku pada mereka.
Bendungan air mataku tak kuasa menahan keharuan, dan segeralah mengalir butiran-butiran mutiara bening dari mataku.
***

Hari pengumuman kelulusan pun tiba. Rasa was-was pastilah ada. Kupasrahkan semuanya pada Tuhan. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Kini biarlah kuasa Tuhan yang turun tangan. Di depan gerbang aku menunggu kedatangan bapak dari desa. Rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan beliau. Kulirik jam besar di tugu depan sekolah, sudah pukul 08.45. Limabelas menit sudah aku berdiri mematung di depan gerbang sekolah, namun tak juga kulihat tanda-tanda kehadiran bapak. Lalu samar-samar kulihat seorang pria mengendarai sepeda ontanya. Ya Tuhan, itu bapak! Dengan gigih ia mengendarai sepeda dari Pengasih hingga kota Jogja, hanya untukku. Untuk mengambil pengumuman kelulusanku.
Bapak pun tersenyum padaku sambil menepuk bahuku. Aku pun melangkah menuju gedung pertemuan wali murid beserta bapak. Penampilan bapak memang sederhana. Beliau mengenakan kemeja batik panjang berpadu dengan celana yang sudah kelihatan usang, tak lupa pula mengenakan peci kesayangannya, juga sandal jepit yang alasnya sudah tipis. Banyak dari mereka yang datang memperhatikan bapak, bahkan tertawa cekikikan melihat bapak. Namun aku tak peduli, dia tetap menjadi kebanggaan buatku.
Rangkaian acara demi acara pun telah terlaksana. Kini saatnya diumumkan lulusan terbaik dan pemberian beasiswa. “Baik, sekarang saatnya kita mengetahui siapa lulusan terbaik tahun ini dan siapa yang berhak mendapatkan beasiswa” kata sang pembawa acara. “Dan, Lulusan terbaik tahun ini adalah.... YANTO WIJOYO DARI KELAS DUA BELAS IPA DUA! DAN BERHAK MENDAPAT BEASISWA UNTUK MELANJUTKAN KE UNIVERSITAS GADJAH MADA!” Ya Tuhan, apakah aku bermimpi? Gumamku dalam hati.
Le, itu namamu, to?” kata bapak dengan wajah sumringah.
“Iya, pak.” jawabku. Ya Tuhan, lulusan terbaik? Beasiswa? Aku benar-benar tak menyangka. Segera ku rangkul, dan kupeluk bapak. “Pak, Yanto bisa kuliah gratis” bisikku. Tepuk tangan pun bergemuruh dari setiap sudut ruangan. Mereka yang tadinya terlihat meremehkan dan memandang bapak sebelah mata, kini malah takjub dengan beliau. Banyak dari mereka yang bersalaman dengan bapak bahkan sudi berbincang-bincang dengan-nya.
Acara pun berakhir. Bapak berpamitan pulang.
“Le, bapak pulang dulu. Bapak ndak sabar pengen cerita dengan simbok dan mbakyumu. Besok kamu bisa pulang, to? Bapak mau nyembelih kambing buat Syukuranmu.” kata beliau. Aku tersanjung.
“Iya, pak.” aku pun mencium punggung tangan bapak dan kami berpisah. Senyum pun mengembang di wajah bapak. Dapat kubayangkan bagaimana suasana hati bapak saat ini, pengorbanan beliau tiada pernah sia-sia. Aku berjanji pada diriku sendiri akan membalas budi dan membahagiakan beliau.
***

Keesokan harinya, ku kayuh sepedaku menuju desa. Tak sabar ingin bertemu dengan simbok dan Mbak Marni. Sampai akhirnya di perempatan desa aku bertemu dengan Lik Dimin. Wajahnya terlihat cemas.
Lik Dimin!!!” panggilku.
“Yanto! U-u-un-tung sss-sa-saya ketemu kamu disini.” suara Lik Dimin terdengar gagap.
“Kenapa Lik? Lik tenang dulu ya, saya ndak ngerti Lik ngomong apa” kataku.
“Tadinya saya mau jemput kamu ke kota, tapi kebetulan kamu udah sampai disini. Kita langsung ke rumahmu saja ya?” ajak Lik Dimin, aku pun mengekor di belakang.
Sesampainya di gang menuju ke rumah, aku melihat orang berlalu-lalang, ku lihat bendera kuning di dekat gapura gang. Perasaanku sungguh tak enak.
Lik Dimin ada apa ini??!!!” seruku. Lik Dimin tak bergeming. Aku pun turun dari sepeda, membanting sepedaku disitu dan segera berlari ke rumah.
“Mbook...” suaraku bergetar. “Ada apa ini?” simbok tak menjawab. Mbak Marni segera menghambur ke pelukanku.
“Dik, bapak sudah pergi” bisik Mbak Marni sambil terisak-isak. Matanya terlihat sembab. Kulihat pula simbok terisak-isak disebelah bapak yang sudah terbaring ditutup kain lampin.
“APA!!?? NDAK MUNGKIN!!! BAPAK NDAK MUNGKIN PERGI!!! NDAAAK MUNGKIN!!” aku histeris, tangisku pun pecah. Lik Dimin pun memelukku dari belakang dan coba menenangkanku.
“Sudah Yan, kamu harus ikhlas. Biarkan bapakmu tenang disana.” kata Lik Dimin
“Ndak mungkin!!! Ndak mungkin bapak meninggal!!! ini semua salah saya!!!!” aku masih histeris.
“Su-sudahlah, le. Ini semua sudah menjadi suratan takdir dari-Nya. Ini bukan salahmu. Tahukah kamu le, kalimat terakhir yang sempat diucapkan bapakmu? Dia bangga denganmu, le. Dia bangga sekali dengan keberhasilanmu.” ucap simbok memelukku sambil terisak-isak.
“Ndak mungkin, maafkan Yanto, pak, maafkan Yanto.” tangisku meledak di samping jenazah bapak.
“Sudahlah, le. Kita harus ikhlas.” kata Mbak Marni.
Seseorang yang paling berarti dalam hidupku kini telah tiada. Bapak telah tinggalkan aku selamanya. Seorang bapak yang tegar dan gigih. Masih terbayang jelas bagaimana perjuangan bapak menyekolahkanku. Tiap minggu beliau kayuh sepeda ke kota, membawa serta kelapa hasil panenan dan menjualnya hanya untuk uang sakuku selama bersekolah. Masih teringat jelas pula, senyum yang mengembang dari wajah beliau kemarin saat mengetahui anaknya telah berhasil. Maafkan Yanto, pak. Yang belum dapat membalas kenaikan bapak, yang belum dapat membahagiakan bapak, yang selalu merepotkan bapak. Aku berjanji akan meraih cita-citaku, aku yakin engkau tersenyum bahagia di atas sana.
***

Cute Polka Dotted Rainbow Bow Tie Ribbon